Tuesday, January 27, 2026

Praktik Baik, Jubah Seribu Peran, Muliyani AS

 



Sebuah Tulisan Praktik Baik
Oleh: Muliyani AS., S.Pd., Gr., M.Pd.
(Kepala TK Paud Percontohan Enrekang)
(Terbaik II pada Ajang Apresiasi GTK Tahun 2025 Tingkat Sulawesi Selatan)





PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

TK PAUD Negeri Percontohan Enrekang merupakan TK Negeri kedua yang berdiri di Kabupaten Enrekang sekaligus menjadi satuan PAUD percontohan bagi lembaga-lembaga PAUD lainnya di wilayah ini. Sebagai satuan rujukan, kami memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk menjadi contoh dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna, adaptif, dan selaras dengan semangat transformasi.

Percepatan perubahan menjadi sebuah keniscayaan. Kami tidak bisa berjalan lambat di tengah arus transformasi pendidikan yang terus bergerak maju. Justru, kami harus berada di garis depan dan menjadi laboratorium praktik baik yang bisa menginspirasi satuan-satuan PAUD lainnya di Kabupaten Enrekang. Karena itu, setiap langkah inovasi, refleksi, dan aksi kolaboratif di TK PAUD Negeri Percontohan Enrekang selalu diarahkan agar bisa menjadi cerminan nyata dari semangat perubahan yang berpihak pada anak.

Menjadi kepala sekolah di era transformasi pendidikan berarti siap berubah, siap mendengar, dan siap bertumbuh bersama. Peran kepala sekolah tidak lagi sebatas pengelola, melainkan penggerak perubahan, penyemangat, dan inspirasi.

Di TK PAUD Negeri Percontohan Enrekang, saya menemukan makna kepemimpinan yang baru yaitu kepemimpinan yang hidup, membumi, dan kolaboratif. Saya menyebutnya “Jubah Seribu Peran”, karena setiap hari saya bisa menjadi siapa pun yang dibutuhkan oleh satuan, antara lain bisa sebagai narasumber, pendamping, peserta, teman diskusi, teman cerita dan mencari solusi bahkan bisa menjadi pengganti guru menemani dan memfasilitasi anak-anak melakukan kegiatan pembelajaran.

Semua peran ini melebur dalam satu wadah bernama Bengkel SIAPP (Sigap, Inovasi, Aktif, Produktif, dan Peduli), tempat kami bersama-sama bergerak dari refleksi menuju aksi, berlandaskan semangat budaya Enrekang Sulawesi Selatan yaitu SIPA: Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi’ (saling memuliakan), dan Sipakainge’ (saling mengingatkan).

Awal perjalanan ini tidak selalu mudah. Saat memimpin, saya menemukan guru-guru dengan semangat yang beragam. Ada yang antusias mengikuti perubahan, ada pula yang masih ragu menghadapi kebaruan dalam Kurikulum ditambah lagi dengan pendekatan yang akan digunakan yaitu pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).

Di saat bersamaan, satuan kami juga berkomitmen mendukung Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang menekankan pembelajaran bermakna, berkarakter, dan kolaboratif. Saya sadar, agar gerakan ini dapat hidup di sekolah, guru harus merasakan semangat perubahan secara nyata dan menyenangkan. Maka, saya tidak berdiri di depan memberi perintah. Saya memilih berjalan bersama dan menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri.

 

B.      Tantangan

Beberapa tantangan yang saya hadapi dalam melakukan transformasi terhadap keterbaruan di dunia Pendidikan khususnya di Satuan PAUD kami, antara lain :

1.     Menjaga semangat guru agar stabil dan berkelanjutan. Guru butuh ruang tumbuh yang aman, tempat mereka bisa bereksperimen tanpa takut salah.

2.     Membumikan keterbaruan pembelajaran. Bagaimana membawa konsep “pembelajaran mendalam” agar benar-benar hidup di kelas, bukan sekadar istilah dalam dokumen RPP.

3.     Menanamkan nilai SIPA dalam setiap langkah perubahan. Agar inovasi tetap berakar pada budaya lokal dan terasa hangat di hati semua guru dan anak.

4.     Menjadikan Bengkel SIAPP bukan sekedar forum belajar, tetapi ruang refleksi dan gerak bersama bertransformasi sigap mengikuti keterbaruan.


ISI

A K S I

 

Perubahan tidak akan berarti tanpa langkah nyata. Setelah melalui refleksi mendalam bersama tim, saya menyadari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memberi arah, tetapi juga tentang menciptakan ruang agar setiap orang bisa bergerak dan bertumbuh. Saya memilih untuk tidak menjadi pusat, melainkan menjadi penggerak yang menyalakan semangat di sekitar saya. Dari sanalah berbagai langkah konkret lahir dan langkah yang kami jalankan bersama di Bengkel SIAPP sebagai wujud nyata dari kepemimpinan kolaboratif dengan semangat SIPA.

 

1.     Mendorong Lahirnya Bengkel SIAPP

Saya memfasilitasi terbentuknya Bengkel SIAPP bukan sebagai ketua, melainkan sebagai penggerak di balik layar. Saya memastikan ruangnya hidup, agendanya relevan, dan energinya terjaga. Guru-guru menjadi pengelola utama, sementara saya hadir sebagai pendukung dan penyalur semangat. Bengkel inilah tempat kami “Beraksi” yaitu dari membiasakan ber-refleksi kami melakukan aksi mengikuti keterbaruan dan mencari solusi bersama dari kendala-kendala yang muncul dalam perjalanan kami bertransformasi.

 

2.     Memakai Jubah Seribu Peran

Saya belajar untuk hadir dalam berbagai bentuk, antara lain :

1)    Sebagai peserta saya belajar/diskusi pada pelatihan-pelatihan, saya duduk di antara guru, belajar hal baru, membuka diri terhadap perubahan.

2)    Sebagai teman diskusi, saya mendengarkan cerita dan tantangan mereka dengan hati terbuka.

3)    Sebagai narasumber, saya berbagi praktik dan pengalaman yang bisa menginspirasi.

4)    Sebagai pendorong, saya hadir saat semangat menurun, menyalakan kembali bara motivasi.

5)    Sebagai pendidik, saya tetap turun sesekali ke kelas-kelas, memastikan setiap perubahan benar-benar sampai ke anak-anak.

Namun, jubah yang saya kenakan tidak berhenti di sana. Sebagai kepala sekolah di PAUD, saya juga kerap menjadi satpam yang memastikan keamanan lingkungan belajar, pemantau CCTV yang menjaga ketertiban, sekaligus tukang bersih-bersih saat sekolah butuh tangan tambahan. Kadang saya menjelma menjadi tukang dekorasi yang menata sudut kelas agar lebih hidup, tukang kebun menata taman sekolah agar indah dan hijau atau teknisi kecil yang memperbaiki alat permainan yang rusak. Semua peran itu saya jalani dengan bangga, karena setiap tindakan kecil yang saya lakukan adalah bagian dari cinta saya kepada sekolah dan anak-anak di dalamnya.

 

3.     Menghidupkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Melalui Bengkel SIAPP, kami menginternalisasi tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam aktivitas sehari-hari dengan menciptakan program dengan nama Inreka Ceria (Indahnya Enrekang Cerdas, Religius, Inovatif dan Aktif) yang rutin dilakukan sebelum melakukan kegiatan bermain di kelas dengan kegiatan rutin:

a)     Senin : “SENYUM” (Senin Nyaman, Upacara, Saling Menyayangi)

b)    Selasa : “SELASIH” (Selasa Literasi, Simak dan Hikmah)

c)     Rabu : “RAMAH” (Rabu Menambah Hati)

d)    Kamis : “KATASUKA” (Kamis Tradisi Suka Kami)

e)     Jumat : “JUBELI YUKMA” (Jumat Bersih Lingkungan, Yuk Makan Bergizi Bersama)

Dan setiap harinya pada setiap program diawali dengan “PAGI CERIA” yang diawalai dengan senam pagi bersama, berdoa kemudian menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan melafazkan Pancasila kemudian dilanjutkan dengan program harian dengan durasi singkat tetapi rutin dan berulang-ulang.

 

4.     Menjaga Nilai SIPA dalam Setiap Langkah

SIPA (Sipakatau, Sipakalebbi’, dan Sipakainge’) menjadi roh dalam kepemimpinan saya.

ü  Sipakatau dengan menghargai setiap guru dan anak-anak sebagai pribadi yang berharga salah satu aksi konkretnya saat pembagian tugas kegiatan sekolah, saya menyesuaikan dengan keunikan masing-masing guru, siapa yang suka dekorasi, siapa yang telaten dengan anak-anak, siapa yang senang dokumentasi.

ü  Sipakalebbi’ dengan memberi apresiasi pada setiap usaha kecil yang membawa kemajuan. Aksi konkretnya yang rutin saya lakukan adalah dengan memberikan apresiasi mulai dari usahanya mendesain kelasnya, menjaga kebersihan dan kegiatan-kegiatan inspiratif. Dan puncaknya kami melakukan lomba-lomba pada perayaan Hari Guru Nasional.

ü  Sipakainge’ dengan saling mengingatkan ketika mulai pudar atau kabur makna agar selalu menuju visi bersama. Aksi konkretnya diawali dengan saya selalu membuka diri untuk diingatkan dan guru boleh memberi masukan bila kebijakan saya dirasa kurang tepat.

 


Dengan aksi-aksi yang saya lakukan kemudian bisa mengatasi tantangan yang muncul dalam perjalanan transformasi kami antara lain tantangan mengikuti keterbaruan tidak lagi menjadi hal yang menakutkan karena kami meliliki bengkel tempat kami beraksi dan dengan semanagat SIPA yang merupakan pesan dari orangtua kami agar bisa berinteraksi baik dan itu saya terapkan pada keseharian saya sebagai Kepala Sekolah, saya membersamai teman-teman dengan menggunakan Jubah Seribu Peran agar bisa  maju bersama, berjalan dan  bergandengan tangan.

“ tidak takut lagi sama perubahan “ 



 

 

 PENUTUP

REFLEKSI HASIL DAN DAMPAK 

A.     Hasil dan Dampak

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan soal banyaknya perintah yang dikeluarkan, tetapi tentang berapa banyak ruang yang kita ciptakan untuk orang lain tumbuh. Dengan “Jubah Seribu Peran” mengajarkan saya untuk lentur, belajar tanpa henti, dan selalu siap berganti posisi demi keberhasilan bersama.

Bengkel SIAPP telah menjadi wadah refleksi yang melahirkan aksi nyata. Guru-guru lebih percaya diri, anak-anak lebih bahagia, dan pembelajaran menjadi lebih hidup. Semangat SIPA membuat perubahan terasa lebih manusiawi. Tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang terpaksa dan semua bergerak karena merasa dihargai, dimuliakan, dan diingatkan dengan kasih.

Secara nyata dengan Jubah Seribu Peran di Bengkel SIAPP beraksi kepemimpinan kolaboratif dengan semangat SIPA ini memberikan hasil signifikan dan banyak memberikan manfaat langsung untuk keberlangsungan satuan pendidikan TK PAUD Negeri Percontohan Enrekang, antara lain :

1.     Kurikulum Satuan Pendidikan TK PAUD Negeri Percontohan Enrekang , Rencana Pembelajaran dan Instrumen Assesmen siap selalu sesuai dengan pedoman terbaru.

2.     Pembelajaran mengikuti pendekatan yang baru yaitu dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam

3.     Guru-guru tidak lagi khawatir jika ada regulasi, perubahan kurikulum, pendekatan dan hal-hal lain terkait Pendidikan di PAUD karena yakin kami bisa berkolaborasi di Bengkel SIAPP kami.

4.     Budaya SIPA berakar dan berkembang pada setiap aktivitas kami bahkan sampai pada anak didik kami sebagai penerus budaya.

Kemudian apakah hasilnya efektif ? tentu sangat efektif karena dengan Jubah Seribu Peran di Bengkel SIAPP beraksi kepemimpinan kolaboratif dengan semangat SIPA ini benar-benar bisa menjadi jubah berinteraksi dengan semua yang ada di Satuan kami baik yang ada di dalam satuan maupun sekitar satuan kami. Dengan Jubah Seribu Peran di Bengkel SIAPP beraksi kepemimpinan kolaboratif dengan semangat SIPA ini tidak hanya bisa membuat saya merangkul guru-guru tetapi juga komite dan para orangtua sebagai mitra kami.

Sebagai penutup, perjalanan Bengkel SIAPP di TK PAUD Negeri Percontohan Enrekang adalah kisah perubahan yang lahir dari hati dan tumbuh melalui kebersamaan. Tidak ada yang instan dalam transformasi Pendidikan, semuanya bermula dari kemauan kecil untuk memperbaiki diri. Kini, ruang guru kami hidup kembali. Guru-guru berdiskusi, berbagi ide, dan tertawa bersama. Mereka tidak lagi takut mencoba hal baru. Anak-anak pun menunjukkan perubahan: lebih berani, percaya diri, dan senang belajar.  Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat kini bukan sekadar slogan, tetapi napas dari setiap kegiatan belajar di sekolah kami.

Sebagai kepala sekolah, saya menyadari bahwa kepemimpinan bukan soal berdiri paling depan, tetapi berjalan bersama dan bahkan kadang di belakang, untuk memastikan semua bergerak maju. “Jubah Seribu Peran” bukan simbol kekuasaan, tetapi lambang pengabdian. Saya belajar menjadi pelayan perubahan, pembelajar sejati yang siap menjadi apa pun untuk kemajuan satuan saya.

Budaya SIPA adalah cahaya yang menjaga arah langkah kami. Dengan Sipakatau, saya menanamkan penghargaan. Dengan Sipakalebbi’, saya menumbuhkan semangat apresiasi. Dengan Sipakainge’, saya memastikan tidak ada yang tertinggal dalam perjalanan. Kini, setiap senyum anak dan semangat guru adalah bukti bahwa Bengkel SIAPP Beraksi telah memberi makna baru dalam perjalanan kami: dari refleksi menuju aksi, dari individu menuju kolaborasi, dari perubahan kecil menuju gerakan besar.

 

“Bengkel SIAPP” bukan hanya ruang refleksi, tetapi rumah pertumbuhan tempat di mana saya dan guru-guru belajar menjadi versi terbaik diri kami. Dari ruang kecil di satuan kami, di Bengkel SIAPP inilah saya menempa diri untuk siap melangkah lebih jauh. Saya siap membawa semangat perubahan ini ke ruang yang lebih besar yaitu berbagi dengan teman-teman pendidik PAUD di Kabupaten Enrekang melalui wadah-wadah kolaborasi seperti Gugus dan Komunitas Belajar antar sekolah.

Kami percaya, ketika setiap kepala sekolah dan guru menyalakan satu cahaya kecil perubahan, maka seluruh Enrekang akan terang bersama. Dari refleksi menuju aksi, dari ruang kecil menuju gerakan besar.

Saya akan terus mengenakan jubah seribu peran ini namun bukan karena ingin tampil serba bisa, tapi karena ingin selalu siap menjadi bagian dari perubahan.
Dari ruang kecil di TK PAUD Negeri Percontohan Enrekang, kami beraksi dengan semangat SIPA, untuk mewujudkan Anak Hebat, Guru Merdeka, dan Pendidikan Anak Usia Dini yang Bermakna.

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Sangat menginspirasi praktik baiknya Bu Kepsek.. Kadangkala seorang pemimpin harus menjadi bunglon untuk menemukan permasalahan. Dan menjadi tantangan pula dalam memberikan solusi terbaik. Sehat selalu dan terus menginspirasi

    ReplyDelete